Experience Notes: “Mengolah Benang Merah”

Catatan artistik, Festival Benang Merah 2019

Penyelenggaraan Festival Benang merah tahun pertama ini diadakan sabtu dan minggu, 22-23 Juni 2019, di Alun-alun Sewandana Pakualaman Yogyakarta. Saya diminta menggawangi pengolahan berbagai kebutuhan artistik dalam festival tersebut. Ajakan ini datang di detik-detik akhir, tiga minggu sebelum acara dimulai. Meski penuh resiko dan keterbatasan, namun saya kira festival ini perlu dibantu. Secara pribadi, saya menganggap festival ini penting. Paling tidak untuk saya yang miskin pengetahuan mengenai kepercayaan Penghayat dan bagaimana dinamika sosial yang melingkupinya.

Menggaungkan keberagaman dalam kehidupan yang kian hari kian dipaksa seragam, adalah hal mutlak yang harus diupayakan kita bersama. Dibutuhkan konsistensi dalam menggaungkan demi menjaga kebhinekaan dan memperkuat nilai keberagaman di negara ini. Kasih sayang dan toleransi seharusnya menjadi pijakan utama warga negara Indonesia. Namun jika kita melihat kenyataan akhir-akhir ini, perbedaan seolah menjadi hal yang tabu jika bersinggungan. Apa yang disebut dengan kolaboarsi saat ini menjadi hal yang istimewa, seistimewa kotanya. Orang bisa tersentuh dan bertubi-tubi membagikan foto orang yang sedang menolong seseorang hanya karena masing-masing memakai pakaian identitas agamanya. Seolah haus, kering kerontang, dihamparan padang tandus. Kita semua memimpikan hidup rukun tanpa melihat perbedaan keyakinan. Atas dasar ini saya pikir kita harus selalu berupaya untuk terus menjaga kemajemukan dari belenggu keseragaman. Kesempatan mengolah artistik dalam festival ini saya kira adalah kesempatan besar bagi saya. Festival Benang Merah dapat menjadi media refleksi bersama atas segala yang telah kita lewati bersama.

Berbuka puasa dengan imajinasi

Saat itu saya dikontak teman, Heron namanya. Dia yang menghubungkan saya dengan seluruh panitia inti di festival ini. Komunikasi berlanjut dengan mbak Novi, salah satu staf yang cukup progresif dari Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) yang juga menjabat koordinator festival ini. Kami merencanakan pertemuan fisik di alun-alun Sewandanan Pakualaman, tempat diadakannya acara.

Corat-coret-3

Corat-coret-1

Corat-coret-4

Ide ikon Festival Benang Merah

Kami bertemu satu minggu sebelum Lebaran. Ada saya, Heron, dan mbak Novi. Setelah melihat secara langsung lokasi yang akan dipakai, kami memutuskan mencari warung untuk berbuka puasa sembari mendiskusikan rencana-rencana kedepan. Kami singgah disebuah angkringan tak jauh dari lokasi. Sembari menikmati teh panas dan gorengan, mbak Novi menjelaskan mengenai Festival Benang Merah dan sejauh mana kebutuhan artistik dibutuhkan. Dalam momen tersebut kami langsung membayangkan kemungkinan respon artistiknya. Ide-ide yang terbayang juga langsung kami kerucutkan dalam angka dan kalkulasi. Seperti jumlah, material, penempatan, dan durasi pengerjaannya. Sebab bermain artistik dalam durasi terbatas, harus sesuai dengan kapasitas dan waktu yang tersisa. Pertemuan singkat dan sangat imajinatif. Buka puasa bersama ini membuahkan hasil yang berlimpah.

Lebaran, membersihkan hati, merealisasikan ide, dan gagasan

Meski proses persiapan terpotong libur lebaran. Kami sepakat untuk terus berkoordinasi melalui grup WhatsApp (WA). Mengingat waktu tinggal tiga minggu lagi, beberapa desain saya buat sembari mudik. Harapannya setelah mudik dapat segera belanja material untuk bekal produksi. Rencana saya setelah ikon wayang selesai, hal yang akan saya lakukan adalah mengaplikasikannya dalam media publikasi dan dekorasi.

Desain backdrop Festival Benang Merah

Ide dan gagasan yang saya tawarkan adalah keberagaman, toleran, dan ceria. Menurut saya festival ini adalah sebuah perayaan bersama, sehingga perlu menunjukan kemeriahan. Nampaknya dari 6 jenis karakter wayang yang saya tawarkan mendapat catatan yang menarik dari mbak Novi, yaitu jumlahnya harusnya 7. Mengapa? Sebab 6 karakter dari gagasan 6 kepercayaan di Indonesia masih kurang satu, yaitu kepercayaan Penghayat. Hal yang justru sangat fundamental. Sebab festival ini dirancang untuk mengawal pengakuan negara terhadap kepercayaan Penghayat. Selain tetap mewacanakan hidup rukun, berdampingan, dan toleran tanpa mengintervensi masing-masing kepercayaan. Meski awalnya saya sempat kebingungan akan simbol Penghayat, namun akhirnya semua dapat terselesaikan dengan baik.

Desain-Wayang-4

Desain-Wayang-7

Desain-Wayang-5

Desain-Wayang-3

Desain-Wayang-2

Desain-Wayang-1

Desain-Wayang-6

Desain-Wayang-kolaborasi-2

Desain-Wayang-kolaborasi-1

Kemudian saya mencoba membuat tambahan dua desain wayang dengan komposisi menyatu dan berkolaborasi. Meski stereotype, beberapa simbol yang mudah masih saya pakai untuk memudahkan pesan. Selain itu saya juga memasukan unsur-unsur tambahan seperti pena, alat musik, skateboard, dll. Menurut saya hal ini dapat merepresentasikan semangat anak muda yang dinamis, kolaboratif dan sportif. “Lucu” adalah target utama yang harus saya capai, sebab saya ingin membuat orang senang dulu mengenai isu ini, khususnya generasi baru.

Hal selanjutnya yang saya buat adalah desain kaos. Ada hal yang menarik ketika kami menyepakati desain kaos. Saya mengusulkan untuk membuat kaos berlogo sponsor dan yang tidak berlogo sponsor. Mengapa? Karena dengan begitu panitia dapat menjual kaos yang tanpa logo secara pre-order. Selain juga sebagai bentuk fundraising. Hal yang sebelumnya tidak kami bayangkan. Mengingat biasanya kaos even bercorak logo sponsor.

Kaos-LKiS1

Kaos-LKiS2

Kaos-LKiS3

Kaos-LKiS4

Libur lebaran selesai, produksi dimulai

Saya mulai mengerjakan aplikasi desain wayang ini dalam bentuk instalasi yang dapat berdiri sendiri (baca: tidak ditempel di dinding). Karena jelas tidak ada dinding masif maupun panel untuk menggantung karya wayang di lapangan. Satu-satunya cara hanyalah memberi kaki-kaki pada masing-masing wayang. Sehingga dapat berdiri sendiri dan mudah dipindah secara penempatan.

Waktu itu toko-toko material sudah mulai buka. Saya mulai membeli papan MDF dengan ketebalan 8mm sebagai bahan untuk menggambar wayang. Saya mengerjakan seluruh gambar di kantor Wahana Lingkungan Hidup Yogyakarta (Walhi). Terus terang saya sedang tidak memiliki studio. Saya memilih di sana karena halamannya cukup luas, suasananya sejuk, sebab banyak ditumbuhi pepohonan di sekitarnya. Dalam proses menggambar saya dibantu Ical, mahasiswa Tatakelola Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Kebetulan Ical sedang mengikuti program magang di Ruang MES 56, komunitas fotografi yang saya kelola bersama teman-teman selama 17 tahun ini.

Corat-coret-5

Corat-coret-10

Corat-coret-9

Corat-coret-7

Corat-coret-8

Kami menggambar kurang lebih 5 hari. Dalam prosesnya Heron sering mampir bantu-bantu ngecat. Meski secara pekerjaan dia adalah peneliti, namun goresan kuasnya mampu menunjukan bakat terpendamnya. Secara simultan saat kami mengerjakan gambar, saya juga berkoordinasi dengan Adib untuk membantu memproduksi material pameran. Adib sering diperbantukan hampir diseluruh acara seni di Yogyakarta. Malang melintang di festival nasional maupun internasional. Adib memiliki tim yang siap membantu produksi hingga pemasangannya. Saya cukup puas dengan pekerjaannya. Selain kerjanya cepat, tepat waktu, hasilnya cukup rapi. Tak hanya mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, Adib juga dapat membuat anggaran sesuai kapasitas dan kebutuhan pemesan.

Kami berhasil menyelesaikan seluruh kebutuhan artistik tepat dua hari sebelum acara dimulai. Seluruh benda yang akan di display kami kumpulkan di kantor Walhi. Saya sengaja menargetkan hari itu selesai, sebab saya pikir saya akan sibuk membantu menyiapkan seting area seperti panggung, tenda, dll di malam harinya.

Benar adanya, Heron memberi kabar meminta saya untuk segera datang ke lokasi siang hari itu. Ada sedikit masalah dengan keamanan di lokasi. Pemasangan panggung dan tenda sempat terhenti dan bergeser dari titik semula. Pihak yang biasanya memakai lokasi untuk bisnis parkir billiard meminta area disisakan untuk parkir setiap harinya. Mereka juga meminta anggaran keamaman dan parkir pengunjung festival sebagai kompensasi.

Sebenarnya bukan tanggung jawab saya menghadapi soal-soal seperti ini. Namun apa boleh buat, tidak ada orang yang bisa menjembatani dua kebutuhan ini. Akhirnya kami bertemu dengan perwakilan dari pengelola parkir di sana. Tepatnya di area pujasera, di sisi timur alun-alun Pakualaman. Setelah berdiskusi beberapa hal pokok terkait latar belakang acara ini, maka kami menyepakati pembayaran untuk kompensasi parkir dan keamaman. Pikir saya karena mereka memang warga di sekitar sini. Akhirnya setelah selesai pembayaran dan kesepakatan, lokasi langsung dikondisikan oleh pihak terkait. Pemasangan tenda kembali berjalan hingga selesai.

Menurut Heron, sebenarnya dia dan Arif salah satu teman dari LKIS sudah mengurus perijinan dan mengantongi surat izin kegiatan baik di Polresta Yogyakarta maupun Polsek Pakualaman. Seluruh administrasi juga telah dipenuhi. Hal ini juga kami sampaikan ke pihak keamanan setempat, sehingga secara posisi jelas bahwa kami memberikan sedikit dana untuk keamanan ini tidak lain adalah sebagai dana kekerabatan. Namun secara lisan dan tertulis, mereka kami minta bertanggung jawab sesuai perjanjian.

Menjelang petang, ada seorang bapak paruh baya datang. Dia mengaku sebagai seseorang yang bertugas membersihkan seluruh area alun-alun Pakualaman ini setiap harinya. Khususnya jika ada kegiatan-kegiatan di alun-alun, dia biasa membantu dalam hal kebersihan, penataan kursi, dan jaga malam. Sekali lagi kami harus menjelaskan kembali mengenai latar belakang kegiatan ini, izin-izin telah kami dapat baik dari kepolisian maupun keamanan setempat. Namun dalam hal ini kami dapat memahami, bapak tersebut kami beri sedikit dana kebersihan dengan perjanjian yang telah kita sepakati bersama.

Setelah selesai menemui beberapa pihak di hari itu, sedikit banyak kami mengerti bahwa jika membuat kegiatan-kegiatan di ruang publik pasti akan bertemu dengan hal-hal seperti ini. Sehingga langkah taktis yang harus dilakukan jika suatu saat akan membuat acara serupa di ruang publik adalah memetakan dan menemui terlebih dahulu, serta membuat kesepakatan dengan semua pihak, khususnya orang-orang yang “mencari penghasilan” di sekitar lokasi acara. Sehingga tidak akan ada lagi kendala ketika proses pemasangan properti.

Festival Benang Merah berlangsung meriah

Meski dengan persiapan yang singkat, akhirnya acara berhasil dibuka. Namun di jam-jam awal acara dimulai, saya tidak berada di lokasi. Saya harus mendampingi Aning wisuda kelulusan Taman Kanak-kanak (TK) di sekolahannya hari itu. Saya baru bisa datang dan bergabung kurang lebih jam 12 siang. Acara dimulai jam 9 pagi, dengan dibuka oleh pihak Pakualaman dan beberapa instansi Dinas Kota Yogyakarta. Seluruh pihak juga diminta untuk memberikan dukungan, pernyataan sikap bersama, dan tanda tangan di media kanvas menggunakan cat dan kuas yang telah disiapkan. Kemudian acara dilanjut dengan serangkaian diskusi, workshop, presentasi, pentas seni, dan lapak dari komunitas rekanan dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari berbagai wilayah di Yogyakarta. Produk-produk yang dijual cukup beragam, mulai dari sandang hingga pangan.

Pengunjung silih berganti, datang dan pergi, membuat festival ini berjalan cukup dinamis namun tetap aman dan terkendali. Saya cukup menikmatinya, khususnya di area tenda panitia. Sebab persis di depan tenda panitia, ada satu lapak yang membagi minuman kopi gratis dari komunitas kopi Yakum. Salah satu usaha dari lembaga difable terbesar dan tertua di Yogyakarta. Minum kopi sembari bersendau-gurau dengan teman-teman pegiat kopi Yakum.

Opening Festival Benang Merah

Opening Festival Benang Merah 7

Opening Festival Benang Merah 2

Opening Festival Benang Merah 3

Opening Festival Benang Merah 5

Festival Benang Merah 6

Lomba-menggambar-1

Lomba-menggambar-2

Hari kedua, saya datang sejak pagi. Sebab saya diminta untuk menjadi juri lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak. Tak lupa hari itu saya mengajak Aning untuk mengikuti lomba tersebut. Aning sangat antusias mengikuti kegiatan ini, apalagi libur telah tiba. Saat berjalannya lomba, beberapa kali saya menyempatkan melihat proses anak-anak menggambar. Saya cukup kaget melihat gambar yang dihasilkan anak-anak di sana. Secara teknis gambar-gambar mereka sangat terasah, khas anak-anak yang belajar di sanggar lukis. Saya juga sempat mengetahui beberapa orang tua bahkan tak hanya memberi dukungan dari lingkar luar area lomba. Ada yang mencoba mengarahkan anak-anaknya baik dalam hal penggambaran maupun pemilihan warna. Bahkan menurut cerita rekan panitia ada beberapa orang tua peserta yang menghubungi panitia dan menanyakan dengan sangat detil siapa jurinya, dan meyakinkan panitia jika anaknya sangat berbakat dan telah memperoleh predikat juara di beberapa perlombaan. Pikir saya, mengapa orang-orang tua ini sangat berorientasi agar anaknya menjadi pemenang.

Setelah seluruh karya lomba selesai dikumpulkan. Tiba saatnya kami menjuri, ada saya, mbak Nining, dan mbak Novi. Lokasi penjurian agak tersembunyi, di pelataran salah satu sudut bangunan di dalam area Pakualaman. Hal ini sengaja kita pilih untuk menghindari distraksi dari orang-orang tua yang menginginkan anaknya menjadi juara. Di awal lomba kami juga menyampaikan penulisan nama peserta ditulis di sisi belakang kertas. Sebab kami menilai gambarnya, bukan nama atau siapa pembuatnya. Dalam penilaian ada beberapa pertimbangan yang kami pakai. Kesesuaian dengan tema mengenai toleransi dan keberagaman, teknik, dan hasil akhir. Akhirnya terpilihlah dua kategori; juara pertama, kedua, dan ketiga untuk lomba menggambar dan mewarnai.

Lomba-menggambar-3

Siang itu juga setelah pertunjukan barongsai selesai dipentaskan, kami segera mengumumkan para pemenang sesuai kategori. Kami juga menjelaskan alasan-alasan penilaian, dan menyampaikan rencana untuk memberikan apresiasi pada seluruh peserta lomba dengan cara memamerkan hasil lomba di Pendopo Hijau LKIS satu minggu setelah festival ini berakhir. Sebab bagi kami, semua gambar bagus dan kami ingin menunjukan hasilnya pada publik yang lebih luas. Setelah sesi pengumuman lomba selesai, anak-anak dipersilahkan untuk turut memberikan dukungan dan respon gambar di media kanvas yang sebelumnya telah direspon oleh banyak pihak pada awal dibukanya festival ini. Suasana haru terjadi, Aning sempat menangis sesaat karena tak menjadi juara, sebab dia tahu saya yang menjadi juri. Dia juga menyatakan banyak dari peserta yang menghasilkan gambar-gambar yang bagus. Meski dia sedih, namun saya kira dia mampu menerima kekalahan dalam lomba kali ini.

Malam harinya sebagai penutup rangkaian festival, kami membuka kelas workshop aksara Jawa. Kelas ini berkerjasama dengan Komunitas Jagongan Naskah dan MLKI. Lokasinya di ruangan sisi barat Pakualaman. Setelah kelas berakhir dilanjut dengan pertunjukan yang sangat spesial, yaitu Macapat Panembrama/ Puan Hayati. Pertunjukan yang cukup sulit ditemui di acara-acara kesenian di era saat ini. Selain itu ada juga pertunjukan musik dari teman-teman seperti Fafa Agoni dan Yunan Helmi yang lebih bernuansa populer dan interaktif. Kurang lebih jam 9 malam, seluruh rangkaian acara berhasila diselesaikan tepat waktu. Sembari berkemas, panitia membuat “sum-suman” atau makan bersama-sama jenang sumsum. Dalam tradisi di Yogyakarta, hal ini sebagai laku berterima kasih dan rasa syukur sebab semua telah berjalan lancar dan selesai deangan baik.

Semua gambar bagus, semua gambar harus pamerkan

Beberapa hari setelah festival usai, saya mampir ke kantor LKIS untuk menyerahkan berkas-berkas yang harus saya tandatangani. Selain itu saya menyempatkan untuk melakukan pendokumentasian atau merepro seluruh wayang yang telah diproduksi dan media kanvas yang selesai ditandatangan. Pemotretan karya tersebut biasa saya lakukan setelah selesai produksi karya. Dalam waktu-waktu luang saya juga sering membuat catatan sederhana mengenai proses kegiatan tersebut. Catatan-catatan tersebut biasanya saya distribusikan melalui blog saya, atau saya titipkan ke beberapa portal terbitan online yang dikelola teman-teman. Seperti yang sedang anda baca ini.

Kami bersepakat membuka pameran gambar dan mewarnai pada hari Sabtu, 29 Juni 2019, jam 14.00 WIB, di Pendopo Hijau LKIS, Yogyakarta. Display kami jadwalkan satu hari sebelum hari pembukaan pameran. Meski tidak terwacanakan, namun dalam praktiknya saya memilah, menyusun, dan merangkai berbagai gambar dan instalasi wayang menjadi komposisi display dalam sebuah pendopo tanpa dinding ini. Hal sederhana ini adalah bagian kecil dari kompleksitas pekerjaan kurasi dalam sebuah persiapan pameran.

Menurut saya, Pendopo Hijau LKIS ini menarik. Desainnya sangat artistik dan mengedepankan unsur kesinabungan pada material alam. Hasil kerja dari arsitek favorit saya, Yoshi Fajar Kresno Murti atau biasa dikenal dengan sebutan arsitek Ugahari. Lika-liku kayu, dengan sentuhan warna yang dihasilkan dari bias kaca-kaca berwarna-warni. Pikir saya, sayang sekali bangunan sebagus ini kurang dimanfaatkan dan terlihat dibiarkan begitu saja. Alhasil, kami memulai display dengan membersihkan dulu seluruh bagian pendopo ini. Semua lampu yang mati di beberapa titik kami ganti dan kami bersihkan. Saya dibantu Ical, mas Ali dari LKIS, dan beberapa teman yang lain.

Pameran di LKIS 2

Pameran-lomba-menggambar-1

Pameran-lomba-menggambar-2

Pameran-lomba-menggambar-3

Pameran-lomba-menggambar-4

Pameran di LKIS 1

Hal pertama yang saya lakukan adalah memposisikan instalasi wayang dan papan tulis hitam dulu sebagai acuan layout ruang. Setelah semua terposisikan, barulah kami memilah secara penempatan hasil dari lomba gambar, mewarnai, dan penandatanganan dalam media kanvas . Selain itu dekorasi kertas warna-warni yang digantung di langit-langit tenda dalam festival kita pasang lagi di langit-langit Pendopo Hijau LKIS. Agar suasananya tetap sama.

Malam hari sebelum esok pameran dibuka, saya menyempatkan untuk membagikan publikasi digital melalui kontak-kontak group maupun personal di WA. Diantara sekian banyak yang saya kabarkan adalah mbak Yustina Neni. Seorang tokoh kebudayaan, mantan direktur Biennale Jogja, dan pemilik Kedai Kebun Forum. Mbak Neni mengabarkan dia akan datang untuk melihat pamerannya Aning. Lalu saya tawarkan untuk sekalian membuka pameran, sebab menurut saya akan menarik jika ada dari kalangan seni budaya yang turut membuka pameran ini. Gayung bersambut, mbak Neni bersedia.

Keesokan harinya, setelah mendatangi acara pernikahan teman (Syafiatudina dan Wok The Rock). Kurang lebih jam 1 siang, saya tiba di LKIS. Suasana nampak tenang dan telah siap, baik dari segi display maupun tatananan meja tamu, snack, dan minuman. Orang-orang pun berangsur-angsur datang, baik panitia festival maupun masyarakat umum. Pameran dibuka oleh tiga orang, yaitu Ibu Noor Sudiyati sebagai ketua panitia, Pak Hairus Salim sebagai direktur LKIS, dan mbak Yustina Neni sebagai tokoh kebudayaan. Dalam pembukaan ini mbak Novi juga mengundang penari anak bernama Sintawati dari Komunitas Palang Putih Nusantara. Meski sederhana, namun saya kira pameran ini cukup baik, tertata, dan sederhana sesuai dengan segala kapasitas yang ada. Pameran ini berlangsung satu minggu, buka selama jam kerja kantor LKIS.

Pameran-lomba-menggambar-5

Pameran-lomba-menggambar-6-copy

Pameran-lomba-menggambar-7

Pameran-lomba-menggambar-8

Catatan oleh Anang Saptoto
Direktur artistik Festival Benang Merah 2019

Foto ilustrasi dokumentasi penulis, Festival Benang Merah, dan Indonesian Visual Art Archive

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s