Experience Notes: “Kisah Penyunggi Kelapa-kelapa Terakhir dari Sidorejo”

Kisah Penyunggi Kelapa-kelapa Terakhir dari Sidorejo

Oleh Anang Saptoto

Saya akan mengawali catatan ini dengan kutipan lirik lagu yang mungkin akrab di ingatan kita. “Gundul-gundul pacul-cul, gembelengan. Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan. Wakul glimpang segane dadi sak latar…”. Lagu ini berjudul “Gundul-gundul pacul” diciptakan sekitar tahun 1400 oleh salah satu Sunan Walisongo bernama Sunan Kalijaga. Lirik yang ditulis oleh seniman sekaligus sunan ini lebih dari 650 tahun yang lalu, semakin relevan jika kita pakai dalam melihat situasi politik kuasa saat ini.

Ya benar, “menyunggi” kata yang saya pakai dalam judul catatan ini. Dalam arti yang sebenarnya adalah membawa sesuatu di kepala. Penghormatan tertinggi dalam struktur tubuh manusia. Dalam arti itulah makna tersebut saya pakai untuk menyunggi kelapa-kelapa terakhir dari Sidorejo. Sebuah desa yang telah rata dengan tanah, baik bangunan, pepohonan, lahan tani, maupun kehidupan yang menaunginya. Yang tragis justru disebabkan oleh Proyek strategis nasional. Seperti yang tertulis dalam lirik di atas, “menyunggi wakul” tak ubahnya seperti seseorang (baca: pemimpin) yang membawa tanggung jawab besar untuk melindungi, memberi ketentraman serta rasa aman, dan mensejahterakan masyarakatnya. Jika hal tersebut tidak dilakukan sebagaimana kepercayaan yang diberikan. Maka kepercayaan sebagai pemimpin yang dibawa akan jatuh berserakan di tanah.

26 Maret 2019

Sinar mentari pagi menembus celah-celah ventilasi di pasar Beringharjo. Suasana riuh dan barang dagangan yang komplit, membuat kita selalu rindu dengan pasar tertua di Yogyakarta ini. Sejak pagi saya menyusuri tiap-tiap gang mencari grosiran bando yang dapat dimodifikasi sebagai bahan dasar bando kelapa. Hingga akhirnya saya mendapat sebuah model bando yang simpel dan terjangkau secara harga. Ibu penjualnya sempat memberi masukan, “ditambahi kawat saja mas, nanti foto obyek yang sudah di print tinggal di lem dengan kawat sehingga dapat kuat berdiri”. Alhasil, siang itu selain membeli bando, kawat, dan mencetak 30 foto kelapa, saya berhasil mencoba 1 bando sebagai sampel yang nantinya akan diproduksi sebanyak 30 bando. Beberapa teman nampak senang dapat mencoba dan berfoto ria.

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_1

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_2

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_3

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_4

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_5

Malamnya, seorang teman mengabarkan “…jangan dulu menyebarkan poster aksi panggung musik, tunggu surat tanda terima keluar dari Kepolisian dan Unit Pengelola Taman (UPT) Malioboro”. Sembari gemazz, tak sabar untuk menyebarkan poster dukungan aksi, teman yang lain berkomentar “Ah… tak perlu menunggu izinlah. Cukup pemberitahuan saja, sudah aksi”.

Gelas-gelas kopi mulai mengering, menjadi saksi perbincangan di remang-remang halaman belakang sebuah perpustakaan alternatif kajian kebudayaan populer. Tawa dan canda, bersaut-sautan dengan lolongan 2 anjing peliharaan menepis dinginnya malam itu, seolah memberi energi gaib dalam pertemanan jaringan solidaritas perjuangan Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP).

Sebagian orang sibuk memotong dan membentuk ombak-ombak tsunami dengan kardus. Sebagian yang lain asik mengecat dan menggambar di atas spanduk bekas acara. Kertas-kertas A3 yang sudah tidak terpakai disambung menjadi kertas baru berukuran A0. Lembaran kertas bekas pakai ini akan digunakan menjadi poster. Ditulisi secara manual, penggalan kalimat-kalimat dari berita yang mengulas mengenai ancaman rawan bencana di wilayah pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Tiga orang teman terlihat fokus dengan telefon genggam, sibuk mencari saripati kata dari artikel yang kira-kira pas untuk ditulis ulang. Ada juga yang asik mendengarkan Spotify, menikmati musik dari group rebana revolusioner Nasida Ria. Dalam jeda-jeda melodi salah satu teman berkata “…mereka sudah menyuarakan sejak lama penggusuran dan eksploitasi alam. Sementara kita masih memperdebatkan kalimat apa yang akan kita tulis”.

Begitulah seupil kisah pergulatan kami mempersiapkan properti aksi solidaritas untuk membantu menggemakan gugatan warga PWPP-KP ke Mahkamah Agung (MA) di Jakarta. Dimana warga menggugat tentang perubahan Peraturan Pemerintah (PP) No.26 tahun 2008 menjadi PP No.13 tahun 2017. Perubahan itu dianggap hanya untuk mempermudah proses pembangunan infrastruktur di wilayah rawan bencana. Seperti halnya pada proyek strategis nasional, rencana pembangunan bandara NYIA di Temon.

Sebanyak 30 foto kelapa-kelapa terakhir dari Sidorejo berhasil di print seukuran kelapa sebenarnya, dipotong sesuai bentuk kelapa, dan disulap menjadi sebuah bando. Foto-foto kelapa ini saya foto satu persatu manakala kami sedang membantu menjualkan kelapa dari Sidorejo. Saat sebelum rumah dan pepohonan belum berhasil dirobohkan oleh PT. Angkasa Pura 1 (AP1) karena masih mendapat perlawanan yang sengit dari warga dan jaringan solidaritas PWPP-KP. Bando-bando tersebut, nantinya akan digunakan sebagai salah satu properti aksi 28 Maret 2019 di Yogyakarta.

Aksi serentak ini bersamaan dengan penyerahan gugatan warga PWPP-KP ke MA Jakarta. Ada beberapa perwakilan warga dan ditemani oleh jaringan solidaritas seperti Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta (LBH-YK), Wahana Lingkungan Hidup Yogyakarta (WALHI YK), Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Yogyakarta (PBHI-YK), serta jaringan solidaritas baik individu maupun organisasi di Jakarta. Aksi serentak ini terjadi di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Solo. Tak terkecuali aliansi Seduluran Yogyakarta Peduli Alam (SENYUM) di Yogyakarta.

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_6

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_7

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_36

27 Maret 2019

Rabu malam, sehari sebelum aksi dimulai. Akhirnya kami mendapat kabar bahwa sepucuk surat tanda terima pemberitahuan aksi panggung budaya telah didapat dari Kepolisian. Alhasil kurang dari 10 menit setelah kabar itu didengar, poster seruan ajakan aksi telah tersiar seantero nusantara melalui jejaring pertemanan dan sosial media. Ada cerita unik dari teman yang mengurus surat izin aksi panggung budaya tersebut. Dia mengatakan pihak Kepolisian meminta maaf jika besok pada saat aksi, tidak banyak personil dari Kepolisian yang menemani. Hal ini dikarenakan di hari yang sama, ratusan personil difokuskan mengamankan kunjungan salah seorang cawapres di Yogyakarta. Guman kami “…giliran aksinya bagus yang jaga sedikit (baca: tidak dilihat), giliran aksi biasa yang jaga banyak ;p”

Malam semakin larut, jarum jam semakin meninggi. Kurang lebih 3 meter tingginya instalasi ogoh-ogoh berbentuk sebuah buku tebal yang menyerupai bendel buku gugatan berhasil diselesaikan. Meski kami sempat kesulitan mencari potongan bambu dalam kegelapan. Namun perasaan kami cukup lega, karena beberapa teman telah selesai berkoordinasi dengan musisi-musisi penampil untuk memastikan panggung musik. Yang menarik dari panggung nanti, ada 2 nama penampil baru yang bersedia terlibat dalam panggung solidaritas. Mereka adalah Senyawa dan Jogja Noise Bombing, 2 nama yang sangat populer dikalangan skema permusikan alternatif dan kontemporari baik di Indonesia maupun di dunia internasional. Tak tanggung-tanggung, seperangkat alat musik, soundman, genset, dan mobil pengangkut didukung penuh oleh Senyawa. Hormat kami untuk Senyawa. Jadilah sound yang sebelumnya akan disiapkan dan dibawa Ruang Gulma dengan bersepeda tak jadi dipakai.

Poster-acara

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_9

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_8

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_29

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_37

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_30

Pecel lele, telor, terong, tempe, dan nasi uduk telah datang. Titipan pesanan yang dipasrahkan pada salah satu teman yang rela menembus malam tiba dengan cepat. Kami lega sekaligus was-was. Lega karena hampir seluruh properti aksi telah selesai dikerjakan, was-was karena ini adalah aksi pertama mengenai penolakan NYIA setelah sebelumnya tak pernah muncul di ruang publik, pasca aksi di pertigaan UIN. Entah dikoordinasi oleh siapa, namun banyak pihak termasuk jaringan solidaritas dan warga menyesalkan adanya kericuhan dalam aksi tersebut. Aksi kali ini berbeda, sebab dilakukan untuk mendukung gugatan warga. Karena gugatan nanti akan diputuskan dalam sidang tertutup di MA, maka menjadi perlu menggemakan ke publik mengenai gugatan warga PWPP-KP beserta isi gugatannya melalui serangkaian aksi.

Dalam aksi panggung musik ini pula, kami membuat aturan yang ketat mengenai tatacara berorasi, penyebutan nama, kostum, hingga properti dan atribut lainnya. Hal ini penting agar aksi ini tidak mudah diplintir begitu saja sebagai agenda dukungan untuk partai atau capres. Aksi kali ini dikemas dengan cara santun dan nyeni. Kami sepakat untuk ramah, menebar senyum, dan menyapa publik. Hal yang cukup unik bukan. Seluruh penutup wajah wajib ditanggalkan, begitu juga dengan atribut bendera stop NYIA. Sebab fokus utama adalah menggemakan gugatan warga PWPP-KP.

28 Maret 2019

Kamis pagi menjelang siang, salah satu teman yang bertugas meminjam mobil untuk mengangkut properti memberi kabar dirinya sedang di warung untuk sarapan dan akan segera datang membawa mobil. Sembari berharap-harap cemas karena dia tidak segera datang, saya menghubungi teman pengelola sewa mobil memberitahukan bahwa tak lama lagi mobil akan diambil oleh seorang teman. Sungguh sial ketika ternyata mobil angkutan yang sudah kami pesan, pagi ini dibawa teman yang lain untuk mengantar karya seni. Teman yang bertugas mengatur jadwal peminjaman mobil pengangkut lupa jika kami telah lebih dahulu meminjam untuk dipakai hari ini. Meski kecewa, namun kami segera bergerak dengan memesan mobil melalui aplikasi online. Akhirnya seluruh perangkat aksi berhasil sampai Abubakar Ali, meski sedikit terlambat.

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_10

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_11

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_12

Rangkaian gunungan mungil berhasil diselesaikan di taman parkir Abubakar Ali. Arak-arakan rangkaian instalasi serta ogoh-ogoh siap dibawa dengan berjalan kaki hingga ke Gedung Agung. Para mahasiswa, seniman, musisi, organisasi, dan lembaga peduli lingkungan mulai berjalan, berorasi “Kami berharap dan meminta dengan tegas agar pemerintah benar-benar menjalankan aturan seketat mungkin dalam segala pembangunan infrastruktur di wilayah zona merah rawan bencana. Jangan sampai hanya demi investor, keselamatan masyarakat banyak digadaikan! Bukan begitu teman-teman!!??”.

Benar adanya, publik merespon dengan senyum melihat keunikan properti aksi seperti ogoh-ogoh simbol bendel buku gugatan, gunungan sayur mayur, dan bando kelapa-kelapa terakhir dari Sidorejo. Ya benar, Sidorejo adalah salah satu desa terdampak diantara 5 desa yang lain akibat pembangunan NYIA di wilayah Temon. Tak ada lagi rumah berdiri, begitu juga dengan pepohonan, tumbang diterjang proyek stategis nasional. Tak bisa saya bayangkan, berapa banyak lagi keluarga-keluarga yang harus digusur kedepan. Karena proyek ini tak berhenti hanya membuat bandara, tapi juga kota bandara. Silahkan cek apa saja kriteria sebuah kota bandara.

Polisi mengikuti masa aksi dengan berjalan dibelakang barisan. Sebelumnya ada yang sempat bertanya “…apa sebenarnya dasar aksi yang ingin disampaikan?”, dengan tenang saya menjawab “sebagai warga yang baik, maka kami perlu mengingatkan pada pemerintah, agar jangan mengindahkan ancaman rawan bencana disuatu wilayah dengan mengganti PP. Sebab jika terjadi bencana, masyarakatlah yang menjadi korban”. Lalu pak polisi tadi mengangguk-angguk, “Jadi apa tuntutannya?”, sembari memakai bando saya jawab “Mencabut PP No.13 tahun 2017, dan meminta pemerintah untuk tegas dan melarang segala pembangunan infrastruktur di zona merah rawan bencana”.

Tepat pukul 3 sore, arak-arakan tiba di Gedung Agung. Beberapa saat sebelumnya musik mp3 sudah mulai dinyalakan untuk membangun suasana. Para penampil juga telah siap dibawah beringin raksasa persis di depan gedung bersejarah Senisono. Sebelum menuju panggung musik, masa aksi arak-arakan berhenti sejenak di tengah perempatan Nol Kilometer (0km). Seperti sebuah tradisi, titik tengah perempatan itu selalu berhasil mengundang masa aksi untuk datang dan singgah sejenak berorasi. Meski sebenarnya ini diluar agenda 🙂

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_13

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_31

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_32

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_14

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_15

Akhirnya setelah beberapa saat menyampaikan orasi, masa aksi mulai bergerak mendekati panggung musik di sisi barat perempatan 0km. Beberapa orang sibuk memasang atribut aksi menjadi instalasi panggung. Kemudian dilanjut MC mulai mengisi suasana, dan satu-persatu penampil mulai bermain. Mereka adalah Gemalam Choir, Sombanusa, Sisir Tanah, Jogja Noise Bombing, dan Senyawa. Disela-sela penampilan musisi juga diisi orasi perwakilan dari organisasi-organisasi yang terlibat.

Suara-suara menuntut keadilan terdengar lantang menggema, dengan kualitas sound yang mumpuni. Suara-suara dari muda-mudi ini menjadi tanda manakala sebuah pembangunan yang rakus, yang memprioritaskan kepentingan modal besar di atas hak warga, yang memporak-porandakan kelestarian alam. Maka hanya alamlah yang mampu memberikan petunjuk, sekalipun di atas kepiluan sebuah bencana dengan mitigasi yang dilangkahi.

Saya sempat mampir membeli tali rafia untuk mengikat beberapa properti tambahan. Kiosnya berada di sebelah selatan perempatan dekat kantor pos. Ternyata suara dari sound yang berkualitas mampu terdengar sangat jelas. Tiap-tiap kalimat yang diteriakan terdengar lantang meski dari jarak yang cukup jauh. Ini menjadi pengalaman yang artistik dan performatif yang menarik bagi banyak pihak, baik penyelenggara maupun publik di sekitar lokasi.

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_33

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_16

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_35

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_22

Diakhir penampil diisi oleh Senyawa. Ada kejadian yang cukup mengkhawatirkan kala itu. Saat Wukir sedang memainkan gitar rakitannya, ada yang bergerak pada engsel pundaknya. Katanya sembari berbisik pada teman disebelahnya yang memperhatikan gerak-geriknya, “tanganku ucul”. Hal tersebut seketika membuat Senyawa berhenti manggung. Danto Sisir Tanah membantu mengantar Wukir mencari tukang becak terdekat. Ini bukan sekali dua kali terjadi, katanya Wukir memiliki langganan pijat yang biasa membantu mengembalikan engsel tangannya jika lepas seperti ini tak jauh dari Malioboro. Namun ajaibnya, saat hendak naik becak tangan Wukir tiba-tiba pulih, engselnya bergeser ke posisi semula. Kemudian dia kembali ke area panggung dan berhasil memainkan 3 lagu.

Pilihan-foto-aksi-28-Maret-2019_25

Setelah seluruh penampil selesai, acara ditutup dengan pembacaan deklarasi bersama oleh semua orang yang berada di area tersebut. Kebetulan sebelumnya, salah satu teman sempat membuat brosur yang berisikan narasi dan poin-poin deklarasi. Brosur tersebut dicetak sebanyak 500 lembar dan dibagi-bagikan sepanjang aksi. Dengan begitu hampir semua orang yang berada disana memiliki brosur dan dapat turut serta membacakan deklarasi bersama.

Setelah acara selesai, properti aksi dan sound mulai di angkut dengan 2 mobil yang berbeda. Beberapa teman memilih tinggal sejenak bersama krumunan masa disekitar area panggung, beberapa yang lain mengantar properti kembali ke perpustakaan alternatif. Saya menyusul mobil yang mengangkut properti dengan bersepeda. Melewati daun-daun kering pohon beringin di sekitar alun-alun utara yang berserakan, bercampur dengan kotoran kuda yang jatuh dimana-mana. Sembari menghindar agar roda sepeda saya tak menginjaknya, saya berharap semoga alam merestui gugatan warga PWPP-KP di MA, Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s